BERITA Internasional kritik

Postingan Facebook PM Singapura Picu Protes Vietnam dan Kamboja

Postingan Facebook PM Singapura Picu Protes Vietnam dan Kamboja

INFODETIK –┬áPostingan facebook Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong berkenaan invasi Vietnam ke Kamboja pada 1978, menyebabkan kemarahan dua negara bagian ASEAN tersebut.

Pada Minggu (09/6) lalu, kepala pemerintahan Singapura itu menyampaikan ungkapan duka ke PM Thailand Prayuth Chan-O-Cha atas meninggalnya mantan PM Jenderal Prem Tinsulanonda pada 26 Mei.

Lee memuji kepemimpinan Prem. Lee menjelaskan, Prem dengan lima negara bagian pemimpin ASEAN, Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, bersama-sama menentang invasi Vietnam ke Kamboja dan pemerintahan baru Kamboja pengganti rezim Khemer Merah. SITUS POKER OVO

Tak cuma itu, Thailand berada di garis depan hadapi pasukan Vietnam mencoba menginvasi Kamboja dan sudah berada di perbatasan negara itu. Saat peristiwa selanjutnya berlangsung, Jenderal Prem secara lantang menentang pendudukan Vietnam di Kamboja di sejumlah forum internasional. IDN POKER PULSA

Menurut Lee tindakan Prem adalah wujud kepeduliannya memelihara keamanan di negara-negara bagian ASEAN yang waktu itu berjumlah lima negara.

Selain di facebook, isu invasi Vietnam di Kamboja terhitung disinggung oleh PM Lee di dalam pertemuan Shagri-La Dialogue di Singapura. Hal itu disampaikan Lee waktu berkata soal terbentuknya ASEAN. IDN POKER GOPAY

Rupanya, ucapan Lee mendapat respons negatif dari Kamboja. Menteri Pertahanan Kamboja Jenderal Tea Banh menyebut komentar Lee tidak benar dan tak bisa diterima.

Tea lebih-lebih sudah memberikan keberatan ke Menhan Singapura Ng Eng Hen. Ia meminta, PM Lee langsung merevisi ucapannya.

“Dia tidak mengatakan fakta dan pernyataannya tidak merefleksikan sejarah. Itu tidak benar gara-gara ia mengatakan bahwa tentara Vietnam sudah menginvasi Kamboja,” kata Tea.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Vietnam menyesalkan komentar yang disampaikan Lee. Sama seperti Kamboja, Vietnam melihat komentar Lee tidak merefleksikan kebenaran sejarah.

“Ini bisa menyebabkan imbas negatif terhadap opini publik,” sebut keterangan Kementerian Luar Negeri Vietnam.