BERITA Internasional supranatural UNIK WISATA

Kelamnya Pulau Goree di Senegal dan Kisah ‘Door of No Return’

Senegal dan Kisah ‘Door of No Return’

INFODETIK –  Belum ke Senegal kalau belum ke Goree.”Kalimat itu terlontar dari Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Dakar Didik Trimardjono saat menyambut kumparan di Senegal, awal pekan ini.
Ada dua hal yang membuat Goree sangat menarik. Pertama, tempat itu masuk daftar situs warisan budaya UNESCO. Kedua, Indonesia berencana mengucurkan investasi besar ke sekitar kawasan tersebut.
Kata yang terucap dari Didik membuat kumparan berupaya mencari cara bagaimana bisa mencapai Goree di tengah waktu sangat singkat dan padat kegiatan di Senegal.

Dorongan untuk menuju Goree pun semakin kuat datang usai salah seorang staf lokal KBRI yang merupakan penduduk asli Senegal bernama Fatu. Ia mengatakan, percuma kalau ke Senegal tapi tidak ke Goree.
Setelah hampir putus asa karena padatnya jadwal, di hari terakhir lawatan ke Senegal, tepatnya pada Selasa (11/12), kumparan akhirnya bisa mengunjungi Goree.
Ada alasan di balik kengototan kumparan untuk bisa ke Goree. Tempat itu, dulunya adalah pusat perbudakan dunia .Deposit Judi Pulsa
Demi mencapai Goree kumparan Naik kapal feri cepat dari pelabuhan Dakar. Lewat jalur laut hanya butuh waktu kurang dari setengah jam untuk sampai di bibir pantai Goree

Kelamnya Pulau Goree
Kelamnya Pulau Goree

Aura Kesedihan

Melangkah turun dari feri, aura kesedihan dan penderitaan mendalam langsung menyeruak dari pulau tersebut.
Di tengah perasaan yang bergejolak tersebut tiba-tiba seorang penduduk lokal Goree menghampiri rombongan kami. Ia bernama Abdoulaye atau biasa dipanggil Abdou.
Dengan ramah dirinya menawarkan menjadi pemandu wisata. Ia hanya mematok harga 8000 CFA atau setara Rp 200 ribu untuk memandu satu kelompok wisata.

Baca Juga : RISTY TAGOR DIAM-DIAM SUDAH MENIKAH LAGI DAN PUNYA ANAK PEREMPUAN

Kumparan dan rombongan pun menyetujui tawaran tersebut. Dari Abdou kami tahu soal sejarah Goree yang menyedihkan. Deposit Judi Pulsa
Dulu sekitar abad 17, kata Abdou, Goree adalah pusat perdagangan budak kulit hitam di Samudera Atlantik. Seluruh budak diambil dari beberapa negara Afrika dikumpulkan di Goree sebelum dikirim ke Benua Amerika dan Eropa.

Door of No Return
Door of No Return

Abdou mengatakan, setiap budak yang dipilih untuk dikirim akan pergi dari Maison des Esclaves lewat sebuah pintu yang disebut “Door of No Return”.
“Barang siapa yang melewati pintu tersebut, maka mereka tidak akan pernah kembali ke tanah kelahirannya di Afrika,” kata Abdou menjelaskan arti penamaan tersebut.
Di akhir cerita Abdou menjelaskan, perbudakan merupakan kenangan pahit bagi seluruh warga kulit hitam. Baginya, tindakan tersebut lebih dari kebiadaban.
“Kami mungkin bisa memaafkan perbudakan, tapi kami tidak akan pernah bisa melupakannya,” tutup Abdou.

Sumber : Kumparan.com 

Tags